Mengenal dan berwisata budaya adat
Desa adat tenganan dauh tukad
D
esa Adat Tenganan Dauh Tukad adalah salah satu desa kuno yang tidak
kalah unik yang ada di Karangasem. Desa yang terletak di kaki Bukit Pengilian
ini dapat di tempuh lewat jalan mulus berhotmix sekitar 2,5 km dari jalan raya
menuju Desa Baliaga Tenganan Pegringsingan atau sekitar 23 km dari kota
Amlapura. Desa adat yang memiliki keunikan dalam perjalanan sejarah
peradabannya, kini tumbuh menjadi desa wisata dengan lingkungan desa yang asri,
tradisional, dan eksotik. Salah satu atraksi sacral yang dimiliki adalah
mageret pandan (perang pandan), metekrok, tuun medaa, dan metruna setiap
pelaksanaan Aci Usaba Sambah tepat pada sasih kelima menurut perhitungan Wariga
setempat. Sebagaimana diketahui tradisi prosesi upacara mageret pandan, nulak
dammar, Daa truna Nyambah, Matekrok, anyunan, adalah budaya ritual aliran Indra
(tradisi pra-Hindu Majapahit) yang ada di desa baliaga Tenganan Pagringsingan, namun di Desa Tenganan Dauh Tukad
budaya itu juga ada, menyatu dan bercampur dengan budaya adat setempat yang
notabene beraliran Siwa (tradisi Hindu Majapahit). Menurut Buku Monografi Desa
Pakraman Tenganan Dauh Tukad karangan budayawan Prof.DR.I
Gede Parimartha,MA, keberadaan cikal bakal warga Tenganan Dauh Tukad dalam
pelaksanaan adat budaya menjalankan agama sebagian terpengaruh tradisi
pra-Hindu Majapahit dan sebagian lagi menganut pengaruh tradisi Hindu Majapahit
seperti penggunaan pendeta dalam upacara agama serta prosesi upacara Pitra
Yadnya menggunakan bade (wadah) untuk mengusung sawa/jenazah. Pengaruh Hindu
Majapahit juga Nampak dari struktur prajuru adat dengan adanya posisi Penghulu
Desa yang dihormati dan dihargai oleh krama desa serta tidak membedakan soroh,
luluh menyatu menjadi satu kesatuan trah.
Kesimpulan
Bali Aga adalah kelompok masyarakat yang hidup di daerah
pegunungan (pedalaman) Pulau Bali. Penduduk Bali Aga sering juga disebut dengan
“ Wong Bali Mula “ yaitu orang-orang Bali asli (Bali Mula), yang
mendiami Pulau Bali ini mandahului penduduk Bali Pedataran. Menurut sebagian
catatan sejarah, kata Tenganan berasal dari kata "tengah" atau "ngatengahang"
yang memiliki arti "bergerak ke daerah yang lebih dalam". Kata tersebut berhubungan dengan pergerakan masyarakat desa dari daerah pinggir
pantai ke daerah pemukiman di tengah perbukitan. Desa Tenganan Dauh Tukad sangat benyak mengalami perubahan
salah satunya adat istiadat desa yang dulunya masyarakat di desa tenganan dauh
tukad tidak diperboleh kawin atau mengawini orang selain dari dalam desa,
tetapi seiring bejalannya waktu dan majunya zaman teradisi ini di hilangkan,
sekarang masyarakat di desa tenganan dauh tukad boleh bebas kawin dan mengawini
orang yang bukan masyarakat tenganan. Untuk melestarikan kebudaya kita perlu
peranan segala lapisan masyarakat. Bukan hanya diberatkan kepada pemerintah,
melainkan diri kita sendiri yang menyikapi kebudayaan tersebut dengan
bijaksana.
Mengenal dan berwisata budaya adat
Desa adat tenganan dauh tukad
D
|
esa Adat Tenganan Dauh Tukad adalah salah satu desa kuno yang tidak
kalah unik yang ada di Karangasem. Desa yang terletak di kaki Bukit Pengilian
ini dapat di tempuh lewat jalan mulus berhotmix sekitar 2,5 km dari jalan raya
menuju Desa Baliaga Tenganan Pegringsingan atau sekitar 23 km dari kota
Amlapura. Desa adat yang memiliki keunikan dalam perjalanan sejarah
peradabannya, kini tumbuh menjadi desa wisata dengan lingkungan desa yang asri,
tradisional, dan eksotik. Salah satu atraksi sacral yang dimiliki adalah
mageret pandan (perang pandan), metekrok, tuun medaa, dan metruna setiap
pelaksanaan Aci Usaba Sambah tepat pada sasih kelima menurut perhitungan Wariga
setempat. Sebagaimana diketahui tradisi prosesi upacara mageret pandan, nulak
dammar, Daa truna Nyambah, Matekrok, anyunan, adalah budaya ritual aliran Indra
(tradisi pra-Hindu Majapahit) yang ada di desa baliaga Tenganan Pagringsingan, namun di Desa Tenganan Dauh Tukad
budaya itu juga ada, menyatu dan bercampur dengan budaya adat setempat yang
notabene beraliran Siwa (tradisi Hindu Majapahit). Menurut Buku Monografi Desa
Pakraman Tenganan Dauh Tukad karangan budayawan Prof.DR.I
Gede Parimartha,MA, keberadaan cikal bakal warga Tenganan Dauh Tukad dalam
pelaksanaan adat budaya menjalankan agama sebagian terpengaruh tradisi
pra-Hindu Majapahit dan sebagian lagi menganut pengaruh tradisi Hindu Majapahit
seperti penggunaan pendeta dalam upacara agama serta prosesi upacara Pitra
Yadnya menggunakan bade (wadah) untuk mengusung sawa/jenazah. Pengaruh Hindu
Majapahit juga Nampak dari struktur prajuru adat dengan adanya posisi Penghulu
Desa yang dihormati dan dihargai oleh krama desa serta tidak membedakan soroh,
luluh menyatu menjadi satu kesatuan trah.
Kesimpulan
Bali Aga adalah kelompok masyarakat yang hidup di daerah
pegunungan (pedalaman) Pulau Bali. Penduduk Bali Aga sering juga disebut dengan
“ Wong Bali Mula “ yaitu orang-orang Bali asli (Bali Mula), yang
mendiami Pulau Bali ini mandahului penduduk Bali Pedataran. Menurut sebagian
catatan sejarah, kata Tenganan berasal dari kata "tengah" atau "ngatengahang"
yang memiliki arti "bergerak ke daerah yang lebih dalam". Kata tersebut berhubungan dengan pergerakan masyarakat desa dari daerah pinggir
pantai ke daerah pemukiman di tengah perbukitan. Desa Tenganan Dauh Tukad sangat benyak mengalami perubahan
salah satunya adat istiadat desa yang dulunya masyarakat di desa tenganan dauh
tukad tidak diperboleh kawin atau mengawini orang selain dari dalam desa,
tetapi seiring bejalannya waktu dan majunya zaman teradisi ini di hilangkan,
sekarang masyarakat di desa tenganan dauh tukad boleh bebas kawin dan mengawini
orang yang bukan masyarakat tenganan. Untuk melestarikan kebudaya kita perlu
peranan segala lapisan masyarakat. Bukan hanya diberatkan kepada pemerintah,
melainkan diri kita sendiri yang menyikapi kebudayaan tersebut dengan
bijaksana.

